Postingan

SEBUAH JAKET BERLUMUR DARAH ~ Taufiq Ismail

Sebuah jaket berlumur darah Kami semua telah menatapmu Telah berbagi duka yang agung Dalam kepedihan berahun-tahun Sebuah sungai membatasi kita Di bawah terik matahari Jakarta Antara kebebasan dan penindasan Berlapis senjata dan sangkur baja Akan mundurkah kita sekarang Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’ Berikrar setia kepada tirani Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan? Spanduk kumal itu, ya spanduk itu Kami semua telah menatapmu Dan di atas bangunan-bangunan Menunduk bendera setengah tiang Pesan itu telah sampai kemana-mana Melalui kendaraan yang melintas Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa Prosesi jenazah ke pemakaman Mereka berkata Semuanya berkata LANJUTKAN PERJUANGAN

Almamater ~ Taufiq Ismail

Di depan gerbangmu tua pada hari ini Kami menyilangkan tangan ke dada kiri Tegak tengadah menatap bangunanmu Genteng hitam dan dinding kusam Berlumut waktu Untuk kali penghabisan Marilah kita kenangkan tahun-tahun dahulu Hari-hari kuliah di ruang fisika Mengantuk pada pagi cericit burung gereja Praktikum Padang percobaan Praktek daerah Corong anastesi dan kilau skalpel di kamar bedah Suara-suara menjalar sepanjang gang Suara pasien yang pertama kali kujamah Di aula ini, aula yang semakin kecil Kita beragitasi, berpesta dan berkencan Melupakan sengitnya ujian, tekanan gurubesar Melepaskannya pada hari-hari perpeloncoan Pada filem dan musik yang murahan Ya, kita sesekali butuh juga konser yang baik Drama Sophocles, Chekov atau ‘Jas Panjang Pesanan’ Memperdebatkan politik, Tuhan dan para negarawan Tentang filsafat, perempuan serta peperangan Bayang benua abad dahulu lewat abad yang kini Di manakah kau sekarang berdiri? Di abad ini Dan bersyukurlah karena lew...

Membajak Kembali ~ Taufiq Ismail

Orang-orang telah membajaki sawah-sawah kembali karena lewat sudah musim kemarau menguning bumi lekang kering menafaskan lagi air membening Di punggung bukit-bukit awan hujan bergantung biru pepohonan di desa mulai dipukul angin beruap lembab tangkai-tangkai besi bajak dan penyawah-penyawah berselubung harap di jantung, kerbau-kerbau di-hee, yaaaaah! hee yaaaah! anak-anak perempuannya mengantar sarapan cuma nasi jagung dan ketela kering, ibu-ibu bersingsing kain hati sesak bertopi caping setiap dada berlingkar cemas harap mata dikandungi sesuatu menyesak dan mulut meneriak: hee yaaah! hee yaaaaah yaa aaaah! Lumpur terbalik baring berbongkah-bongkah mata dibayangi awan hujan, meniti di pematang sawah lingkar-lingkar di leher bukit harapan bumi bernafaskan air panen padi kuning selepas kemarau melekah kering dan teriak kini merencah teriak kian meresah: hee yaaaah! hee yaaaaah (Taufiq Ismail, 1955)

Doa dalam Lagu ~ Taufiq Ismail

Ibuku karena engkau merahimiku Merendalah tenteram karena besarlah anakmu Ayahku karena engkau menatahku Berlegalah di kursi angguk laki-laki anakmu Tuhanku karena aku karat di kakiMu Beri mereka kesejukan dalam dan biru  (Taufiq Ismail, 1953)

Menengadah Keatas, Merenungi Ozon Yang Tak Tampak ~ Taufiq Ismail

Langit masih biru di atas halaman dan kampungku Awan dengan beberapa juta jemarinya, saling berpegangan bergugus-gugusan Mereka bergerak perlahan bagaikan enggan Masih adakah angin yang bertugas dalam keindahan Aku tidak mendengar lagi suara unggas dan siamang Seperti di desaku Baruh, di masa kanakku Kini yang beringsut adalah gemuruh kendaraan Menderu di jalanan kota besar Menderu di jalanan kota sedang Menderu di jalanan kota kecil Semua berkejaran dalam jalur nafkah dunia Semua menanam mesin dan menabur industri Semua memburu panen angka-angka Bergumam dan menderam dalam paduan suara Kemudian selesma, bersin lalu terbatuk-batuk Punggungmu jadi terbungkuk-bungkuk Siapa yang akan mengurutmu di bagian tengkuk Danau yang menyimpan warna biru kenapa engkau jadi kelam dan hijau Sungai yang meluncurkan air berkilau Kenapa engkau keruh, suaramu sengau Hutan yang menutup daratan, perbukitan dan gunung kudengar tangismu dipanggang nyala api seraya kesakitan engkau mel...

Obsesi Garis Miring ~ Taufiq Ismail

Seekor makhluk melompat-lompat Dari satu garis miring Ke garis miring lainnya Di atas rimba jaringan skema Saat ini dia tergelincir Dan meluncur tertahan-tahan Ke bawah, kejurang Tangannya Menggapaigapai. (Taufiq Ismail, 1965)

Dengan Puisi, Aku ~ Taufiq Ismail

Dengan puisi aku bernyanyi Sampai senja umurku nanti Dengan puisi aku bercinta Berbatas cakrawala Dengan puisi aku mengenang Keabadian Yang Akan Datang Dengan puisi aku menangis Jarum waktu bila kejam mengiris Dengan puisi aku mengutuk Nafas zaman yang busuk Dengan puisi aku berdoa Perkenankanlah kiranya. ( Taufiq ismail, 1965)